SUMEDANG, Wplus62.com – Di bawah langit Sumedang yang kian muram oleh kepungan mendung, tanah-tanah perbukitan tak lagi sekadar diam; ia menyimpan bisikan ancaman yang bisa runtuh sewaktu-waktu.
Namun, di tengah kecemasan yang merayap di sela tebing dan aliran sungai, BPBD Sumedang hadir sebagai tameng terakhir, menjahit kembali rasa aman warga yang robek oleh ancaman bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Sumedang, Bambang Rianto, menegaskan kesiapan timnya saat membedah strategi mitigasi dalam forum “Garasi Diskusi” garapan IJTI Sumedang. Ia memastikan personilnya tetap bersiaga penuh menghadapi siklus cuaca ekstrem yang kini mengepung wilayah Sumedang.
Gerak Cepat di Zona Merah
Bambang menolak sikap pasif. Ia menginstruksikan timnya untuk menyisir titik-titik rawan sebelum bencana menghantam. Fokus utama petugas saat ini tertuju pada pemetaan ulang lereng-lereng rentan longsor dan normalisasi jalur air di wilayah dataran rendah.
“Kami memangkas birokrasi penanganan. Begitu sensor mendeteksi ancaman atau warga melapor, tim reaksi cepat langsung meluncur ke titik nol. Kami hadir bukan hanya untuk mengevakuasi korban, tapi untuk mencegah adanya korban,” ujar Bambang dengan nada lugas.
Membangun Benteng Manusia
BPBD tidak bekerja sendirian. Bambang kini tengah menggenjot program “Budaya Sadar Bencana” di tingkat desa. Ia ingin warga mampu membaca tanda-tanda alam, seperti munculnya retakan tanah pasca-hujan atau perubahan warna air sungai menjadi keruh secara mendadak.
Strategi yang diusung meliputi:
Aksi Mitigasi Vegetatif: Menanam pohon berakar kuat di lahan miring untuk mengikat tanah.
Digitalisasi Informasi: Menyebarkan peringatan dini melalui jaringan relawan di grup-grup instan agar pesan sampai dalam hitungan detik.
Kolaborasi Taktis: Mengunci koordinasi dengan TNI, Polri, dan relawan lokal guna mempertebal kekuatan di lapangan.
Tantangan Medan Berat
Bambang mengakui bahwa geografi Sumedang yang berbukit merupakan lawan yang tangguh. Akses jalan yang sempit dan potensi longsor susulan seringkali menghambat alat berat masuk ke lokasi bencana. Namun, ia menjamin seluruh armada dan logistik bantuan dalam posisi siap tempur.
Ia juga mengapresiasi jurnalis yang tergabung dalam IJTI Sumedang. Menurutnya, pers berperan krusial dalam meredam hoaks saat situasi darurat dan memberikan edukasi yang menenangkan masyarakat.
“Bencana mungkin tidak bisa kita bendung sepenuhnya, tapi dengan kesiapsiagaan, kita bisa meminimalkan risiko. Kami menjaga Sumedang agar tetap tangguh,” pungkasnya.***
