Berita Terkini

Tajuk Rencana: Operasi “Pilih Kasih” PSSI: Kenapa Bandung Butuh Paspor Asing, Tapi Jakarta Cukup KTP Lokal?

Oleh Tim Redaksi Olahraga

Selamat kepada PSSI dan PT LIB yang kembali sukses melestarikan tradisi “Double Standard” paling konsisten di jagat raya. Sungguh sebuah komedi kepemimpinan yang epik: melihat otoritas sepak bola kita mendadak punya dua wajah berbeda hanya karena urusan koordinat GPS stadion.

Bandung: Panggung “Flexing” Wasit Impor

Setiap kali bus Persija dijadwalkan menginjakkan kaki di Bandung, PSSI mendadak berubah menjadi organisasi yang sangat “International-Minded“. Mereka tiba-tiba menjelma menjadi entitas kaya raya yang hobi spending demi mendatangkan pengadil dari luar negeri.

Seolah-olah, wasit lokal kita bakal langsung tremor atau menderita amnesia aturan begitu mendengar gemuruh Bobotoh di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).

Munculnya nama Ko Hyung-jin (Korea Selatan) untuk laga (11 Januari 2026), menambah daftar panjang “dewa penyelamat” impor dari Kirgistan hingga Malaysia.

Logikanya sungguh ajaib: PSSI seolah memvonis bahwa keadilan di Bandung hanya bisa tegak melalui tangan orang-orang yang tidak paham arti kata ‘Goblok’ atau ‘Wasit Dibayar’ dalam bahasa lokal.

Jakarta: Wilayah “Cintailah Produk-Produk Lokal”

Namun, begitu venue bergeser ke Jakarta atau Bekasi, gairah internasionalisasi PSSI mendadak mati suri. Di sini, semangat globalisasi itu menguap, diganti dengan kebijakan “ekonomi kerakyatan”. Wasit lokal seperti M. Erfan Efendi atau Fariq Hitaba dipaksa menjadi martir tunggal di tengah tekanan ribuan suporter tuan rumah.

Mari kita bertanya dengan logika waras:

  • Apakah integritas wasit lokal hanya menyala di Jakarta dan mendadak lowbat saat masuk perbatasan Jawa Barat?
  • Atau jangan-jangan, PSSI sedang melakukan eksperimen sosial tentang ketahanan mental wasit lokal secara selektif?

Bojan Hodak dan Sindiran “Aturan Perbatasan”

Bahkan Bojan Hodak, pelatih Persib yang asing itu pun, sampai geleng-geleng kepala. Sindirannya tajam menghujam: “Apakah aturan sepak bola berubah saat melewati perbatasan?”

Ucapan Hodak adalah tamparan bagi federasi. Kebijakan ini bukan soal kualitas, tapi soal ketakutan. Lewat kebijakan ini, PSSI secara telanjang memproklamirkan ketidakpercayaan mereka terhadap wasit didikan sendiri untuk memimpin laga panas di Bandung. Namun anehnya, mereka mendadak pamer kepercayaan diri—atau malah nekat—saat melempar wasit lokal ke tengah bara api di markas Persija.

Mengenang Shaun Evans: Paspor Asing, Kualitas “Magic”

PSSI mungkin menderita amnesia kolektif bahwa label “Asing” tidak otomatis berarti “Suci”. Ingat tragedi 3 November 2017 di Solo?

Publik masih trauma dengan memori 2017. Saat itu, Shaun Evans didatangkan dengan karpet merah dan harapan setinggi langit. Hasilnya? Dia gagal melihat bola yang sudah mencium jaring gawang Persija seolah ada kekuatan supranatural yang menutup matanya.

Jika wasit dari Australia saja bisa mengalami ‘katarak mendadak’ di laga sebesar ini, lantas apa jaminannya wasit Korea atau Kirgistan akan lebih baik?

Hasilnya? Sebuah sirkus:

  • Gol ‘HantuEzechiel: Shaun Evans menganulir secara gaib sebuah sundulan yang jelas-jelas sudah menggetarkan jaring gawang
  • Keputusan Prematur: Menghentikan laga di menit ke-83 seolah ingin cepat-cepat mengejar jadwal penerbangan pulang.

Jika di tempat netral saja wasit asing bisa bertindak “ajaib”, lantas alasan ilmiah apa yang membuat PSSI terus-terusan mengagungkan mereka sebagai solusi tunggal untuk laga di Bandung?

Berhenti Bermain Drama

Hadirnya teknologi VAR seharusnya menjadi titik akhir dari perdebatan standar ganda ini. Namun, selama PSSI masih hobi membeda-bedakan perlakuan antara koordinat Bandung dan Jakarta, integritas liga ini tak lebih dari sekadar jargon di atas kertas glossy.

Berhentilah bersembunyi di balik paspor asing. Jika PSSI tidak berani memberikan kepercayaan yang setara pada wasit lokal di semua stadion—atau setidaknya memberikan standar wasit asing yang merata di kedua markas—maka mereka sebenarnya tidak sedang mengelola kompetisi profesional.

PSSI hanya sedang mementaskan panggung drama dengan skenario murahan yang bahkan bisa ditebak oleh penonton di baris paling belakang sekalipun.