Berita Terkini

Kisah Haru Dedy Saputra: Penyintas Tsunami 2004 di Balik Pulihnya Jalur Logistik Aceh Tamiang

Petugas Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berjibaku menuntaskan pembersihan sisa banjir demi mengembalikan urat nadi transportasi yang sempat lumpuh total.

ACEH TAMIANG, W+62.COM– Proses pemulihan pasca-bencana di Kabupaten Aceh Tamiang terus dipacu tanpa mengenal lelah. Di garda terdepan, petugas Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berjibaku menuntaskan pembersihan sisa banjir demi mengembalikan urat nadi transportasi yang sempat lumpuh total.

Jembatan Krueng Tamiang Kembali Dibuka

Kabar baik datang dari Jembatan Krueng Tamiang. Jembatan yang sebelumnya menjadi pusat pengungsian warga, kini telah resmi dibuka kembali.

Langkah ini krusial untuk mendukung kelancaran distribusi logistik nasional di jalur lintas Medan-Aceh.

Ardian Adhitama, PPK 1.5 Provinsi Aceh, menjelaskan bahwa timnya bekerja dengan sistem shift 24 jam penuh untuk mempercepat pembukaan akses.

“Mulai hari ini akses sudah dibuka. Kemarin-kemarin jembatan dipakai untuk pengungsian, dan itu menjadi salah satu sumber kemacetan karena aksesnya terbatas,” jelas Ardian.

Petugas Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berjibaku menuntaskan pembersihan sisa banjir demi mengembalikan urat nadi transportasi yang sempat lumpuh total, Latar belakang Jembatan Krueng Tamiang

Sosok Dedy Saputra: Mengabdi di Atas Luka Lama

Di balik keberhasilan normalisasi infrastruktur tersebut, ada sosok Dedy Saputra. Sebagai pengawas lapangan, Dedy rela mengabaikan kenyamanan pribadi. Baginya, setiap tumpukan material yang disingkirkan adalah harapan bagi warga dan santri untuk kembali beraktivitas.

“Sebagai abdi negara tidak ada kata capek. Tidurnya kadang enak, kadang tidak enak, kadang tidur ‘bawa-bawa’ lumpur,” ujarnya.

Dedikasi luar biasa ini ternyata berakar dari pengalaman pahit. Dedy adalah penyintas Tsunami 2004 yang kehilangan orang tua dan kedua adiknya.

“Saya pernah jadi korban tsunami, sampai sekarang masih terbayang-bayang. Bapak ibu, dua orang adik dibawa tsunami, belum ditemukan,” ucapnya penuh haru.

Bertempur di Lapangan, Menahan Rindu Keluarga

Meski harus menanggung beban rindu pada anak dan istri, Dedy tetap teguh di lokasi bencana. Di sela waktu istirahat yang singkat, suara buah hati di telepon menjadi pengobat lelahnya.

“Kalau jaringan sudah ada, baru bisa video call. Anak suka manggil papa, terasa terenyuh sendiri,” ungkap Dedy. Namun, ia selalu menanamkan pemahaman kepada keluarga bahwa tugas negara adalah prioritas utama.

Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menjadi garda terdepan proses pembukaan jalur Medan – Aceh pasca-bencana.

Gotong Royong dan Kebangkitan Ekonomi

Keberhasilan pembukaan akses ini mulai menghidupkan kembali ekonomi masyarakat lokal. Rini Puji, salah seorang warga, menyatakan syukurnya atas kerja sama petugas gabungan dan masyarakat dalam membersihkan lumpur yang tebal.

“Seminggu setelah itu mulai datang ngorek-ngorek. Petugas gabungan, PU semua mengorek. Ya gotong royong lah,” katanya.

Dedy Saputra berjanji bahwa tim Bina Marga tidak akan meninggalkan lokasi sebelum semua akses jalan berfungsi sempurna. Ia juga berpesan agar warga Aceh Tamiang tidak larut dalam kesedihan.

“Pemerintah tidak akan berdiam diri. Kami berkonsolidasi memulihkan seperti sediakala. Tidak bisa instan, tapi tahap demi tahap akan kita selesaikan,” tutupnya optimis.***