Berita Terkini

Protes Aturan Barcode dan Gerbang Ditutup, Massa Ojol Serbu Rektorat Unpad Jatinangor

Ratusan pengemudi Ojek Online (Ojol) lakukan protes ke gedung Rektorat Universitas Padjajaran Jatinangor Sumedang pada Selasa (31/3/2026)

SUMEDANG, Wplus62.com — Ratusan pengemudi ojek online (ojol) mengepung Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran (Unpad) Kampus Jatinangor, Selasa (31/3/2026). Pengemudi ojol menggugat kebijakan pembatasan akses kampus karena terbukti memangkas penghasilan harian mereka.

Pemicu utama amuk massa adalah penutupan gerbang utama Unpad. Kebijakan ini memaksa para pengemudi menempuh rute yang jauh lebih panjang untuk mencapai fakultas-fakultas tertentu, terutama Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Kedokteran (FK).

Jarak Membengkak, Pendapatan Terpangkas

Herdi, salah satu orator aksi, menegaskan bahwa penutupan gerbang utama sangat merugikan pengemudi secara finansial. Ia menyebut skema tarif saat ini tidak lagi relevan dengan jarak tempuh baru yang harus mereka lalui.

“Kami harus memutar jauh ke atas hanya untuk mengantar mahasiswa. Jarak makin jauh, tapi ongkos tetap sama. Ini tidak adil bagi kami,” cetus Herdi di sela aksi.

Senada dengan Herdi, Yudi (36), pengemudi ojol lainnya, mengeluhkan ketimpangan antara operasional dan pendapatan. “Ongkos hanya Rp8.000, tapi kami harus memutar jauh. Sangat tidak sebanding dengan bensin dan waktu yang habis di jalan,” keluhnya.

Sistem Barcode Unpad Dinilai Tidak Efektif

Selain masalah gerbang, massa juga menuntut evaluasi total penggunaan QR Code melalui aplikasi SAUnpad di pintu utama. Pihak Unpad berdalih kebijakan ini demi meningkatkan keamanan, namun para pengemudi ojol punya pandangan berbeda.

Herdi menilai, jika tujuannya adalah menekan angka pencurian helm atau motor, seharusnya barcode diberlakukan di area parkir tiap fakultas, bukan di pintu masuk utama kawasan.

“Kalau mau aman, pasang barcode di tiap fakultas. Mahasiswa kan parkir di lingkungan fakultas masing-masing. Di pintu utama itu tidak efektif dan hanya bikin antrean panjang,” tegas Herdi.

Ancaman Aksi Susulan dari Mahasiswa

Keresahan ternyata tidak hanya milik ojol. Herdi mengklaim banyak mahasiswa yang mengeluhkan hal serupa karena mobilitas mereka terhambat. Ia bahkan memberi sinyal bahwa mahasiswa Unpad juga tengah bersiap melakukan aksi unjuk rasa dalam waktu dekat.

Sejauh ini, pihak Unpad telah merespons dengan mengundang perwakilan ojol untuk berdiskusi pada Selasa malam pukul 21.00 WIB. “Harapan kami jelas: buka kembali gerbang utama dan kaji ulang sistem barcode tersebut,” tambah Herdi.

Respons Dishub: Uji Coba Pembukaan Gerbang Selama 5 Hari

Menanggapi tekanan massa, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sumedang, Herman Suwandi, akhirnya angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa kebijakan awal penutupan akses dilakukan demi menekan angka pelanggaran lalu lintas dan kecelakaan di titik Pangdam lama.

Namun, demi mendinginkan suasana, Dishub memutuskan untuk melonggarkan aturan sementara waktu.

“Kami akan membuka kembali akses tersebut selama lima hari ke depan sebagai masa uji coba dan evaluasi,” ujar Herman di Jatinangor.

Meski demikian, Herman memberikan peringatan keras. Jika dalam lima hari masa uji coba tersebut para pengguna jalan masih melakukan pelanggaran lalu lintas, pihaknya tidak akan segan untuk menutup kembali akses gerbang utama.

Skema Akses Unpad Saat Ini:

  • Kendaraan Roda Dua: Masuk melalui Gerbang A.
  • Kendaraan Roda Empat: Masuk melalui Gerbang D (Tugu Makalangan).
  • Akses Keluar: Melalui Gerbang A atau Gerbang B.

Kini, nasib akses utama Unpad bergantung pada ketertiban pengguna jalan dalam lima hari ke depan. Apakah diskusi nanti malam akan membuahkan solusi permanen, atau justru memicu gelombang protes yang lebih besar?***