MINA, W+62.com–Jemaah haji yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Al-Multazam Tanjungsari Sumedang melaksanakan rangkaian ibadah Jumrah Aqabah di kawasan Mina, Jumat sore (6/6/2025).
Sebagian besar dari jemaah masih mengenakan pakaian ihram dan membawa berbagai perlengkapan penting seperti payung, botol air mineral, semprotan air, gunting, kartu nusuk, kartu maktab, serta minimal tujuh butir batu untuk melontar.
Ketua Pembimbing KBIHU Al-Multazam Tanjungsari, KH. Asep Fuad Adnan mengatakan, persiapan para jamaah dilakukan sejak dini untuk memastikan pelaksanaan ibadah berjalan khusyuk dan lancar.
“Kami telah menghimbau seluruh jamaah untuk menggunakan pakaian ihram sebelumnya, agar tiba di lokasi melontar Jumrah Aqabah dalam kondisi ruhiyah yang maksimal. Selain itu, perlengkapan seperti payung dan botol air sangat membantu mengantisipasi teriknya cuaca di Mina,” ungkap KH. Asep Fuad Adnan.
Setelah menunaikan wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah 1446 H, rombongan KBIHU Al-Multazam pun melakukan Mabit di Muzdalifah dan mengambil Jumrah pertama di Mina pada tanggal 10 Dzulhijjah.
Pelaksanaan Jumrah Aqabah secara khusus dijadwalkan setelah matahari terbenam pada hari tersebut, sebagai puncak rangkaian lempar jumrah yang menandai berakhirnya puncak ibadah haji.
Proses Pelaksanaan Jumroh Aqabah
Terpantau dari kondisi jemaah haji, sebagian besar bergerak berjalan kaki dari lokasi pemondokan menuju Jamarat terbesar (Jumrah Aqabah) yang berjarak kurang lebih 3 kilometer. Rute ini dilalui secara bergiliran untuk menghindari kepadatan, dengan pengawalan dari ketua rombongan dan petugas haji setempat.
Selain itu berbagai Perlengkapan yang digunakan dan dibutuhkan seperti Payung, untuk menghindari terik matahari yang masih terasa meski waktu pelontaran dilakukan setelah matahari terbenam.
Lalu, Botol Air / Semprotan Air.yang bermanfaat untuk menyegarkan diri dan menjaga kondisi tubuh agar tidak dehidrasi saat antrean panjang. Alat lainnya yakni Gunting, yang dipersiapkan untuk keperluan pemotongan rambut (Tahallul) setelah selesai melontar.
Selain itu pula, Kartu Nusuk dan Kartu Maktab berguna sebagai panduan dan identitas bagi petugas untuk memastikan solidaritas kelompok tetap terjaga. Dan yang terakhir Batu Jumrah, dimana setiap jemaah wajib menyiapkan minimal tujuh butir. Batu-batu tersebut kemudian dilontarkan satu per satu ke tiang jumrah terbesar (Aqabah) sebagai simbol melempar setan dan lunasnya rangkaian ibadah haji.
“Sebelum melontar, sebagian jamaah terlebih dahulu menunaikan shalat di area Multazam sebagai bagian dari doa memohon kemudahan dan keselamatan,”katanya.
Instruksi untuk Jamaah yang Uzur
KH. Asep Fuad Adnan menekankan, jemaah haji yang uzur, sakit, atau lansia yang tidak mampu berjalan sejauh minimal 6 kilometer (pulang-pergi), diperkenankan untuk melakukan pelontaran Jumroh Aqabah melalui perwakilan (Badal).
“Bagi yang memang tidak memungkinkan menempuh perjalanan fisik, kami sudah mengatur agar keluarga atau petugas haji menjadi badal. Semoga ibadah tetap sah dan diterima oleh Allah SWT,” jelas KH Asep Fuad.
Dalam kesempatan itu, KH. Asep Fu’ad Adnan mengajak seluruh jamaah untuk menjaga kekompakan, saling membantu, dan memastikan ibadah haji dilaksanakan sesuai sunnah.
“Ini adalah momen spiritual yang sangat penting. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita semua, menerima amal ibadah, dan mempertemukan kita kembali dengan keluarga di tanah air dalam keadaan sehat wal afiat,” tuturnya.
Pelaksanaan Jumroh Aqobah oleh jamaah KBIHU Al-Multazam Tanjungsari Sumedang berlangsung tertib hingga selesai sekitar pukul 19.30 Waktu Arab Saudi.
Setelah melontar tujuh batu ke tiang Aqobah, para jamaah langsung menuju tempat pemotongan rambut (tahallul) sebagai tanda dibolehkannya mengenakan pakaian biasa. Rombongan kemudian kembali ke tenda masing-masing di kawasan Mina untuk mempersiapkan ibadah hari Tasyrik berikutnya.
Dengan tertibnya rangkaian pelontaran Jumroh Aqabah, KBIHU Al-Multazam Tanjungsari Sumedang berharap seluruh jamaah dapat menunaikan ibadah haji dengan khusyuk dan lancar hingga manasik terakhir, lalu kembali ke tanah air membawa haji mabrur.***
