Berita Terkini

Sepenggal Kisah Mahaprabu Niskala Wastu Kancana: Raja Agung Kerajaan Sunda-Galuh

W+62.com- Putra dari Prabu Maharaja Linggabuana dan Dewi Lara Linsing yang akhirnya dinobatkan sebagai Maharaja Niskala Wastu Kancana sebagai penerus Kerajaan Sunda-Galuh.

Lahir di Kawali, Galuh pada tahun 1348 Maharaja Niskala Wastu Kancana berhasil menyatukan kerajaan Sunda-Galuh dengan kekuasaan membentang meliputi, Sungai Cipamali hingga Citarum.

Kisah hidupnya tak dimulai dengan mudah. Pada usia 9 tahun, Niskala kecil kehilangan ayah dan kakaknya, Dyah Pitaloka dalam tragedi Palagan Bubat, konflik yang menghancurkan hubungan kerajaan Sunda dan Majapahit.

Sepeninggal Prabu Maharaja Linggabuana, memaksa Prabu Guru Mangkubumi Bunisora Suradipati paman dari Prabu Niskala Wastu Kancana menjadi pengganti sampai Niskala tumbuh menjadi dewasa dan dapat memerintah.

Saat mencapai usia remaja, Niskala Wastu Kancana mengembara ke Lampung, wilayah yang saat itu berada di bawah pengaruh Kerajaan Sunda. Di sana, ia menikahi Lara Sarkati, putri Raja Lampung, yang menjadi permaisuri pertamanya.

Dari pernikahan ini, lahirlah dua orang anak, yakni Sang Haliwungan (Kelak dikenal sebagai Prabu Susuk Tunggal, raja Sunda di Pakuan) dan Sang Haluwesi (Seorang tokoh penting yang memimpin proyek besar menguruk rawa Sanghyang Rancamaya).

Setelah itu, Niskala Wastu Kancana menikah dengan Dewi Mayangsari, putri pamannya Prabu Bunisora.

Dari pernikahan ini, lahirlah empat orang putra, yakni; Ningrat Kancana (Yang kemudian bergelar Prabu Dewa Niskala, penguasa Galuh di timur Citarum), Surawijaya, Gedeng Sindangkasih dan Gedeng Tapa.

Menjalani Tirakat 

Sebagai seorang pemimpin, Mahaprabu Niskala Wastu Kancana memerintah dengan damai selama lebih dari satu abad, dari tahun 1371 hingga 1475.

Pemerintahannya ditandai oleh stabilitas dan kemakmuran, bahkan ketika Majapahit dilanda kekacauan internal akibat Perang Paregreg.

Prasasti yang ditemukan di Kawali Ciamis tahun 1995

Di tengah ketenangan kerajaannya, Niskala Wastu Kancana mengabdikan hidupnya pada spiritualitas, menjalani brata siya puja tan palum (bertirakat tanpa henti).

Prabu Niskala Wastu Kancana, wafat pada usia 126 tahun dan dimakamkan di Nusalarang, memperoleh gelar Sang Mokteng Nusalarang.

Setelah wafatnya, ia membagi kerajaan kepada dua putranya, yaitu; Prabu Ningrat Kancana/Dewa Niskala memerintah di Galuh (1475–1482) dan Prabu Susuk Tunggal/Sang Haliwungan memerintah di Sunda (1475–1482).

Pesan Mahaprabu Niskala Wastu Kancana yang fenomenal melalui tulisan dalam batu andesit yang dipahat, ditemukan tahun 1995 dengan naskah Sunda kuno.

Isi peringatan itu : “Ini petinggal nu atisti ayama nu ngeusi dayeuh ieu ulah botoh bisi kokoro”. Oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Jawa Barat diartikan sebagai berikut “Ini peninggalan dari yang astiti dari rasa yang ada yang menghuni kota ini, jangan berjudi bisa sengsara”.

Konflik Antara Dua Raja: Sunda dan Galuh

Meski saudara, hubungan Prabu Ningrat Kancana dan Prabu Susuk Tunggal memburuk karena pelanggaran adat yang dilakukan Ningrat Kancana.

Ia menikahi seorang gadis larangan dari Majapahit, melanggar sumpah leluhur yang menolak hubungan dengan Majapahit sejak Tragedi Bubat.

Ketegangan ini akhirnya memuncak, memaksa keduanya turun takhta secara bersamaan pada tahun 1482, melalui keputusan musyawarah para sesepuh kerajaan.

Pengganti mereka adalah Pangeran Jayadewata, yang dinobatkan sebagai penguasa tunggal Kerajaan Sunda-Galuh. Ia menerima gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran, Sri Sang Ratu Dewata, membawa era baru persatuan dan kejayaan di bawah satu pemerintahan.

Pengungsi Majapahit di Kerajaan Galuh

Salah satu kisah menarik di era ini adalah kedatangan para pengungsi Majapahit, termasuk Raden Baribin, ke wilayah Sunda-Galuh.

Sang pengungsi diterima dengan tangan terbuka oleh Prabu Ningrat Kancana, bahkan dinikahkan dengan putrinya, Ratna Ayu Kirana.

Hubungan ini membawa dampak besar, menurunkan para pemimpin di wilayah Banyumas dan Dayeuhluhur melalui keturunan mereka, seperti Banyak Catra dan Banyak Ngampar.

Setelah Jayadewata naik takhta, Kerajaan Sunda-Galuh bersatu di bawah Pajajaran. Namun, warisan Mahaprabu Niskala Wastu Kancana tetap dikenang sebagai simbol keadilan dan kedamaian yang menjadi dasar kekuatan Kerajaan Sunda-Galuh di masanya.***

 

*Diambil dari berbagai Sumber

** Foto Patung Niskala Wastu Kancana, Koleksi Tropenmuseum, Amsterdam Belanda