SUMEDANG, Wplus62.com – Alih-alih sekadar menunggu azan Maghrib dengan bersantai, puluhan personel gabungan di Sumedang memilih cara berbeda untuk mengisi waktu. TNI-Polri, Perhutani, hingga relawan menggelar aksi “Ngabuburit Hejokeun Leweung” dengan menanam 200 bibit pohon di lokasi bekas longsor Dusun Jelekong, Desa Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Selasa (10/3/2026).
Aksi lingkungan yang berlangsung mulai pukul 16.00 WIB ini menyasar area tebing rawan yang sempat luruh akibat bencana. Kehadiran para peserta menjadi bukti nyata kolaborasi lintas sektor dalam memitigasi bencana di wilayah strategis Sumedang.
Strategi Mitigasi Jelang Mudik Lebaran 2026
Danramil 1004/Tanjungsari, Kapten Inf Agus Hermawan, memimpin langsung apel kesiapan sebelum para peserta turun ke lereng. Ia menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar seremoni Ramadan, melainkan langkah krusial mengamankan jalur mudik.
“Kami melakukan ini sebagai upaya kesiapsiagaan menghadapi arus mudik Lebaran 2026. Mengingat kawasan Cadas Pangeran adalah jalur vital yang punya risiko bencana tinggi, penguatan struktur tanah melalui penghijauan adalah harga mati,” ujar Kapten Agus di sela-sela kegiatan.
Libatkan Mahasiswa dan Pelajar
Semangat menjaga alam ini menyatukan berbagai elemen masyarakat. Tak hanya aparat, sejumlah organisasi turut bersimbah peluh menanam pohon, di antaranya:
- Perhutani & Polisi Hutan
- Polsek Pamulihan
- Relawan Bencana Riksa
- Mapala Rimbawan & Maperpa UNWIM
- Pencinta Alam Ariapaga SMAN Tanjungsari
Para peserta menanam jenis pohon keras yang memiliki akar tunjang kuat untuk mengikat tanah di kemiringan ekstrem. Jenis pohon yang dipilih meliputi Damar, Rasamala, Ganitri, Puspa, Matoa, hingga Salam.
Investasi Keamanan Jangka Panjang
Pemilihan lokasi di Desa Cigendel bukan tanpa alasan. Kawasan ini merupakan zona merah yang memerlukan perhatian khusus agar tidak kembali mengancam pemukiman warga dan pengguna jalan nasional.
“Penanaman pohon ini adalah investasi lingkungan. Kami ingin kawasan ini kembali hijau dan lebih stabil, sehingga risiko longsor di masa depan bisa kita minimalisir,” tambah Kapten Agus.
Meski menguras tenaga di tengah ibadah puasa, suasana tetap hangat dan penuh semangat. Gerakan ini diharapkan mampu memicu kesadaran masyarakat luas bahwa menjaga alam bisa dilakukan kapan saja, termasuk saat menjalankan ibadah di bulan suci.***
