BANDUNG, wplus62.com – Kota Bandung tengah bersiap melakukan lompatan besar dalam ekosistem ekonomi kreatifnya. Tidak lagi hanya mengandalkan sektor kuliner dan mode (fashion), Pemerintah Kota Bandung kini mulai membidik potensi besar ekonomi kreatif berbasis digital melalui program strategis nasional.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, menyambut antusias kehadiran program “Perintis Berdaya Connect” inisiasi Kemenko PMK. Ia menegaskan bahwa terpilihnya Bandung sebagai pilot project menjadi momentum emas bagi para pelaku UMKM lokal untuk “naik kelas”.
Ekspansi ke Sektor Digital Media
Selama ini, wajah ekonomi kreatif Bandung memang didominasi oleh kuliner, fashion, dan kriya. Namun, Adi melihat peluang baru yang lebih luas di masa depan.
“Bandung tidak menutup kemungkinan akan melahirkan sub-sektor ekonomi kreatif baru berbasis digital, seperti digital media dan sektor lainnya,” ujar Adi.
Meskipun membutuhkan pendekatan yang berbeda, ia memastikan Pemkot Bandung siap berkolaborasi di bawah bimbingan Kemenko PMK untuk memajukan seluruh lini ekonomi kreatif. “Kami akan terus menyebarluaskan informasi ini agar manfaatnya menjangkau seluruh pelaku usaha di Bandung,” tambahnya.

Pengakuan Pelaku Usaha: Dari Gaptek Jadi Melek AI
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh Tia Cintiawati (40), pemilik brand kuliner ‘Affifah Krezch’. Setahun bergabung dalam berbagai pelatihan, Tia mengaku mendapatkan wawasan baru yang mengubah strategi bisnisnya secara fundamental.
“Dulu saya tidak tahu, sekarang jadi paham cara mengemas produk dan pemasaran yang efektif. Bahkan, saya mulai melek teknologi seperti penggunaan Artificial Intelligence (AI) dan ChatGPT untuk bisnis,” ungkap Tia dengan antusias.
Selain literasi digital, Tia menekankan bahwa jejaring (networking) menjadi aset paling berharga yang ia dapatkan selama mengikuti kelas pelatihan dari Pemkot Bandung maupun Rumah BUMN.
Tantangan Klasik: Modal Masih Jadi Penghambat
Meski ide-ide kreatif mulai bermunculan, para pelaku UMKM masih menghadapi tembok besar: akses permodalan. Tia mewakili rekan sejawatnya berharap janji pemerintah mengenai bantuan modal segera menjadi nyata.
“Kendalanya tetap pada pemasaran dan permodalan. Kami punya banyak ide segar, tapi tanpa suntikan modal, pergerakan kami terbatas,” keluh Tia.
Ia berharap pernyataan Deputi dari Kemenko PMK terkait dukungan finansial bukan sekadar wacana. Baginya, sinkronisasi antara pelatihan teknologi dan kemudahan modal adalah kunci utama agar UMKM Bandung benar-benar bisa menembus pasar yang lebih tinggi.***













