BANDUNG, W+62.COM– Kasus keracunan massal siswa setelah menyantap makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Barat jadi persoalan serius, lantaran banyaknya korban.
Hingga Rabu sore kemarin, (24/9/2025) didapat data 911 pelajar yang mengalami keracunan di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Jumlah itu akumulasi dari dua kejadian, yakni sejak Senin, 22//9/2025) lalu dilaporkan kembali terdapat peristiwa yang sama pada Kamis, (25/9/ 2025) di sejumlah kabupaten kota di Jawa Barat, antara lain, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Kota Bandung, meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak.
Insiden ini semakin menguatkan Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah kasus keracunan MBG terbanyak di Indonesia.
Reaksi Istana Negara
Melalui Kepala Staf Presiden (KSP) M. Qodari di Istana, Jakarta, Senin, (22/9/2025) sempat menyebut dari 5.000 kasus keracunan MBG saat ini, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah kasus keracunan terbanyak di Indonesia.
Peristiwa serupa juga sempat terjadi di Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, dan Cianjur.
Dengan rentetan peristiwa itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM itu, ambil sikap terhadap insiden ini. Menurutnya, ini persoalan serius yang harus ditangani dengan baik.
“Ini harus menjadi perhatian serius karena ini program yang sangat baik dari presiden Prabowo untuk meningkatkan nutrisi gizi protein, anak anak Jabar, anak-anak Indonesia menjadi kuat,” kata Dedi kepada wartawan di Bandung, Kamis, (25/9/2025)
Dedi berjanji akan mengevaluasi hal ini secara besar-besaran. Ia akan mengundang Kepala Makan Bergizi Gratis (MBG) perwakilan wilayah Jawa Barat untuk membahas secara bersama sama mengevaluasi peristiwa peristiwa yang terjadi.
“Nanti hari Senin kita undang kepala perwakilan Jabar. Kita mintai klarifikasinya,” kata Dedi.
Korban Berjatuhan, MBG di Jabar Disetop?
Saat disinggung, apakah tidak sementara program MBG di Jawa Barat tidak dihentikan terlebih dahulu mengingat banyak korban berjatuhan?
Mantan Bupati Purwakarta itu belum berencana menghentikan program MBG ini. “Nanti tunggu hari Senin ya. Nanti kita hari Senin kita bicara dulu dengan Kepala Perwakilan di Jawa Barat bagaimana komitmen dia, setelah melihat komitmennya bagaimana, setelah ada komitmennya nanti Pemerintah Provinsi akan mengambil keputusan,” tegasnya.
Mereka pada saat itu akan dimintai klarifikasinya dan akan dilakukan berbagai macam evaluasi.
“Saya meminta evaluasi dapurnya, misalnya dapurnya higienis atau tidak atau bahasa akademisnya audit,” kata dia.
Kedua, lanjut dia, evaluasi jenis jenis bahan makanan yang digunakan. Apakah bahan makanan yang berbahaya atau tidak.
Kemudian ketiga, evaluasi terkait jam masak. Karena, lanjut Dedi, ketika masaknya jam 12 malam lalu diantarkan dan disantap siswa pada jam 12 siang itu waktunya terlalu lama.
“Sehingga harapan saya kedepan dapur itu didekatkan dengan sekolah dan yang dilayaninya jangan terlalu banyak jumlahnya ribuan,” jelasnya.
“Karena siapa pun tidak akan sanggup jumlah makanannya ribuan, masaknya tiap hari tidak pernah berhenti dan jarak dari dapur ke sekolah nya itu agak jauh pasti resiko, ini yang harus kita evaluasi bersama,” jelasnya.
Atasi Trauma Siswa
Dedi mengatakan, para korban yang di Cipongkor saat ini sudah banyak yang pulang. Ia menekankan, selain evaluasi pihak dapur, yang tak kalah pentingnya adalah mental siswa yang juga menjadi perhatian pemerintah.
“Dan yang paling penting menurut saya diperhatikan itu rasa trauma, karena anak yang mengalami keracunan itu tidak mau makan lagi karena trauma dan itu penting,” tegasnya.
“Ini perlu menjadi perhatian serius karena ini merupakan program Bapak Presiden Prabowo untuk memenuhi energi anak-anak, protein, sehingga anak-anak Indonesia, anak-anak Jawa Barat menjadi kuat,” pungkasnya.***
